Fasilitator atau trainer atau…?

foto-artikel-2Dalam sejumlah projek pembangunan, pengertian fasilitasi mengarah pada
”mempermudah” dengan cara memberi bantuan teknis (keterampilan,
informasi, dll) pada masyarakat. Karena itu, kita mengenal fasilitator
dengan keterampilan teknis yang spesifik seperti fasilitator air dan sanitasi, fasilitator kesehatan
masyarakat, mikro kredit, gizi masyarakat, dan lain-lain. Di sini,
fasilitasi merujuk pada pengelolaan partisipasi masyarakat sekaligus
pemberian keterampilan, informasi, atau pilihan-pilihan metode atau
teknologi untuk diadopsi masyarakat.
foto-artikel-1
Dalam praktiknya, kata ”mempermudah” memiliki arti
berbeda bagi orang berbeda. Dalam dunia birokrasi, memfasilitasi kerap
dimaklumi sebagai pemberian fasilitas, entah dalam bentuk dana, sarana,
alat dll. Sehingga memfasilitasi adalah memberi sesuatu yang mempermudah
penyelesaian suatu pekerjaan.

Belakangan ini istilah fasilitator kerap
disebut-sebut dalam berbagai projek pembangunan. Ia menjadi kian
populer, bahkan mungkin lebih populer ketimbang sejumlah tenaga lapangan
yang muncul sebelumnya, seperti penyuluh, pendamping, community trainer, ataupun community organizer.
Istilah bisa berbeda, tapi pada praktiknya, apakah perannya betul-betul
berbeda? Bagaimana cara mudah untuk melihat apakah suatu proses adalah
fasilitasi atau bukan?

Pengertian
Fasilitasi berasal dari kata Perancis, facile dan Latin facilis, yang artinya mempermudah (to facilitate = to make easy). Jadi, secara superfisial fasilitator bisa diartikan sebagai orang yang mempermudah.
Perspektif
global tentang fasilitator tampaknya berbeda dengan
pengertian-pengertian di atas. Prinsip utama fasilitasi adalah proses,
bukan isi. Seperti dijelaskan Hunter et al, (1993), facilitation is about process – how you do something – rather than the content – what you do. Facilitator is process guide; someone who makes a process easier or more convenient to use.
Dalam buku wajib profesi fasilitator yang diterbitkan IAF (International Association of Facilitators), The IAF Handbook of Group Facilitation: Best Practice from the Leading Organization in Facilitation (2005), Schwarz menekankan bahwa tugas utama fasilitator adalah
membantu kelompok untuk meningkatkan efektivitas dengan cara memperbaiki proses dan struktur. Proses mengacu pada bagaimana kelompok bekerja, semisal bagaimana mereka bicara satu sama lain (berkomunikasi),bagaimana membuat keputusan ataupun mengelola konflik. Sementara, struktur mengacu pada proses yang stabil dan berulang seperti pembagian peran dalam kelompok.
Singkatnya,
fasilitator adalah orang yang membantu anggota kelompok berinteraksi secara nyaman, konstruktif, dan kolaboratif sehingga kelompok dapat
mencapai tujuannya. Untuk itu semua, seperti ditekankan Kaner (Facilitator’s Guide to Participatory Decision Making, 2007), fasilitator mesti netral dalam isi (content-neutral).Artinya, isi pembicaran kelompok, seperti bagaimana keadaan suatu masyarakat atau apa solusi yang tepat untuk suatu masalah, adalah urusan kelompok, dan bukan wilayah intervensi fasilitator.
Paradigma dan keterampilan

Berposisi
netral terhadap isi dan hanya menggarap proses bukannya tanpa alasan.
Bila fasilitator tidak netral atau memihak pada satu pendapat/ pilihan
ataupun masuk terlibat dalam isi pembicaraan dengan memberi penilaian
ataupun opini, maka proses kelompok dikhawatirkan terganggu. Akibatnya,
hasil kelompok tidak dipercaya sebagai hasil kerja kelompok. Bila sudah
demikian, maka lupakanlah project ownership ataupun sustainability.

Agar
berfokus pada proses dan berposisi netral, fasilitator mestilah memiliki
paradigma sekaligus teknik-teknik yang mendukung. Secara paradigmatik,
seorang fasilitator mesti berkeyakinan bahwa semua anggota kelompok
ataupun partisipan pertemuan memiliki kemampuan dan dapat mencari jalan
keluar secara bersama-sama. Adalah hak dan tanggung jawab mereka untuk
memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan. Dalam fasilitasi, warga atau
anggota kelompok adalah subjek dalam pengertian sesungguhnya.
proses-content
Fasilitator yang tergabung dalam FNS (Facilitators Network Singapore) menggambarkan posisi proses dan isi (content) dalam diagram kontinual. Pelatihan (training) bobotnya lebih pada isi (what?), sementara fasilitasi di proses (how?).
Dalam praktiknya, tidak tertutup kemungkinan yang terjadi adalah di
tengah, yakni pelatihan yang menggunakan teknik-teknik fasilitasi.
Dari
sisi teknis, keterampilan utama fasilitator adalah bertanya (yang
didapat dari hasil mendengarkan). Sedemikian pentingnya, banyak
fasilitator profesional yang menyimpulkan bahwa fasilitasi adalah fungsi
dari bertanya.
Dengan
bertanya, fasilitator memposisikan dirinya netral untuk kemudian
membuka dan mengundang partisipasi, yang kemudian dikelola dalam dialog
lalu mengerucutkan pada suatu kesepakatan bersama. Secara singkat, ada
tiga pembabakan penting, yakni divergensi (memfasilitasi munculnya
keragaman ide), dialog (mempertemukan dan mendialogkan ide-ide), dan
kemudian konvergensi (mengerucutkan ide-ide).
Cara mudah mengindikasi
Lantas,
bagaimana cara mudah melihat apakah suatu pertemuan warga cenderung
merupakan bentuk fasilitasi (fokus pada proses dan netral) ataukah
penyuluhan, pelatihan atau pendampingan?
Cara-cara mudah memang belum tentu akurat dan sifatnya simptomik saja. Namun, sebagai indikasi awal mungkin dapat dimanfaatkan.
1 ½ menit bicara sudah terlampau banyak
Proses
fasilitasi adalah proses percakapan dan diskusi warga/ anggota
kelompok. Karenanya, fasilitator bicara jauh lebih sedikit. Kecuali di
bagian-bagian pengantar yang mungkin sedikit agak panjang, fasilitator
bicara tidak lebih dari 1 ½ menit. Fasilitator lebih banyak bertanya dan
bertanya hanya memakan waktu sekitar 10 detik. Bila dijumpai
fasilitator yang bicara panjang lebar, bahkan lebih panjang dari warga,
maka patut diduga bahwa yang terjadi bukanlah fasilitasi.
Aktivitas diskusi berpusat pada warga/ anggota
Banyak
foto di artikel-artikel atau laporan-laporan kegiatan fasilitasi
menggambarkan fasilitator tengah beraksi. Ada yang menggambarkan
fasilitator bicara, sementara anggota kelompok memperhatikan. Ada pula
foto yang memperlihatkan seorang warga/ anggota kelompok berbicara pada
fasilitator. Foto memang hanya penggalan sesaat proses yang panjang,
namun bila foto-foto itu merepresentasikan keseluruhan proses, maka yang
terjadi mungkin bukan fasilitasi.
Dalam
proses fasilitasi, diskusi atau interaksi terbanyak terjadi
antar-anggota. Di tahap divergensi, fasilitator memang mengambil posisi
sentral untuk mengumpulkan ide atau pendapat. Namun, divergensi, semisal
dengan brainstorming, sebetulnya merupakan tahapan yang paling singkat. Bahkan, dalam divergensi dengan teknik brainwriting
sosok fasilitator akan menghilang. Karenanya, yang mestinya dominan
adalah interaksi antar-anggota ketimbang anggota kelompok/ warga dengan
fasilitator.
Pengaturan tempat duduk
Ruh fasilitasi mesti juga diterjemahkan dalam setting
tempat duduk. Dalam fasilitasi, pengaturan mesti merefleksikan
persamaan kedudukan antar-anggota dan juga ruang interaksi antar-anggota
kelompok. Jadi, fokusnya bukan hanya pengaturan yang membuat
fasilitator dapat dengan mudah melihat semua anggota kelompok, namun
juga anggota mesti dapat dengan mudah saling melihat. Bila tempat duduk
diatur dengan setting kelas sekolah yang konvensional (berbaris/ kotak), agak sulit mengharapkan proses fasilitasi terjadi.
Kami melakukannya sendiri!
Ketika
berkunjung ke berbagai komunitas untuk belajar projek ini itu, mungkin
kerap didengar dari warga bahwa perbaikan di masyarakat terjadi karena
adanya kehadiran organisasi ini itu. Bila yang didengar hanyalah ”Ini terjadi karena ada organisasi ini itu”, maka prosesnya boleh dipertanyakan.
Fasilitasi
berfokus pada anggota kelompok/ warga. Sehingga, bila mencapai sesuatu,
mereka mestinya merasa “Yes, we did it!”; “Ya, kami berhasil
melakukannya!” Bila pun ada orang atau organisasi luar yang hadir, warga
mestinya dapat mengidentifikasi peran fasilitasi mereka. Secara ekstrim
warga bisa saja berkata: “Pencapaian ini adalah hasil rembuk dan kerja
warga di sini. Memang, ada kawan dari organisasi X yang datang membantu
kami berembuk. Tapi, dia lebih bertanya-tanya dan kadang,
mencatat-catat. Ide dan keputusan berasal dari kami murni!”
Kembali
perlu ditekankan bahwa empat hal di atas adalah cara mudah untuk
mengindikasi atau menduga apakah yang terjadi adalah proses fasilitasi.
Seperti kebanyakan “cara mudah”, banyak kelemahan yang menempel. Lebih
baik, tentu saja, kita belajar dari dekat atau bahkan terlibat langsung,
dan berusaha melihatnya dari berbagai kacamata. (Risang Rimbatmaja)


AddThis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s