PNPM Mandiri – P2KP Solusi Alternatif Problem Kebangsaan

Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) lahir atas tuntutan sejarah. Denyut nadi kebangsaan yang kian hari semakin berada pada titik nadir, menjadi potret kebangsaan yang harus ditangani secara serius dan konsisten. Pada tahun 1999 P2KP lahir sebagai wujud nyata komitmen pemerintah untuk mengakhiri kemiskinan. Tentunya kelahiran P2KP tidak sekadar program yang hanya berorientasi pada formalitas belaka. Lebih dari itu, P2KP sebagai salah satu langkah alternatif dalam memecahkan problem kebangsaan, utamanya masalah kemiskinan.

Krisis moneter yang menimpa bangsa Indonesia berimplikasi negatif pada tatanan kehidupan masyarakat, di mana jumlah kemiskinan tak bisa dibendung realitas di atas menjadi referensi bagi seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah NGO dan LSM dan penggiat sosial untuk bersama-sama melakukan ikhtiar kolektif dalam menuntaskan krisis yang tak kunjung usai. Tanpa adanya kerjasama dalam menanggulangi kemiskinan, maka akan sangat sulit mengeliminasi kemiskinan itu.

Selama ini, kemiskinan telah menjadi genre bagi masyarakat dengan menilai kemiskinan hanya dari sisi ekonomi semata (pendapatan). Penilaian ini sangat reduktif dan kurang arif manakala kemiskinan hanya dimaknai secara parsial dan tidak utuh. Pengangguran, pendapatan rendah, kurang modal, tidak adanya akses, tidak ada pekerjaan tetap, lapangan pekerjaan dituding sebagai biang lahirnya sebuah kemiskinan di masyarakat pada umumnya dan di perkotaan pada khususnya. Penilaian ini sangat subyektif dan tidak memiliki kebenaran secara empirik. Ragam tafsir terhadap kemiskinan menjadi keniscayaan. Siapapun memiliki hak dan metodologi dalam menafsirkan kemiskinan.

Tetapi, bagi P2KP, kemiskinan bukanlah takdir sejarah atau suratan nasib yang tidak bisa berubah, walau usia kemiskinan sama tuanya dengan usia peradaban kemanusiaan. Inilah yang dinilai oleh seorang Sosiolog Emael Durkheim bahwa kemiskinan menjadi fakta sosial yang tidak bisa dihapus sepanjang peradaban kemanusuiaan itu ada.

P2KP meyakini persoalan kemiskinan itu tidak akan pernah berakhir selama kejujuran, keterbukaan, keadilan, kepedulian, keihklasan dan akuntabilitas belum terbangun dalam masyarakat. Dalam P2KP, nilai-nilai itu diistilahkan sebagai prinsip kemanusiaan atau nilai luhur universal kemanusiaan, karena pada dasarnya, nilai-nilai itu melekat pada diri manusia, tapi harus digali dan ditumbuhkembangkan.

Di sisi lain, selain nilai-nilai kemanusiaan sebagai prasyarat mengakhiri kemiskinan, prinsip kemasyarakatan seperti partisipasi, demokrasi akuntabilitas, desentralisasi juga dianggap memiliki andil yang cukup besar dalam mengakhiri kemiskinan di masyarakat. Prinsip itu akan tercapai jika tahapan/siklus dalam P2KP dilakukan secara utuh dan menyeluruh. Jadi, prinsip kemanusiaan dan kemasyarakatan merupakan dalil bagi P2KP. Kemiskinan merupakan efek domino dari hilangnya orang-orang jujur, ikhlas dan perduli.

Kiranya, gagasan cerdas dan genuine yang disampaikan oleh Korkot 2 Pulau Flores M. Yasak dalam acara Lokakarya Kabupaten baru-baru ini terungkap bahwa P2KP ingin belajar bersama masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan. Karena, kemiskinan bukan hanya persoalan pemerintah semata, melainkan menjadi masalah kita semua — seluruh elemen masyarakat. Maka, cara menanggulanginya adalah tanggungjawab kita semua.

Untuk itu, P2KP yang digali dan dipersiapkan adalah kapasitas manusianya (SDM) sendiri, melalui siklus atau tahapan P2KP sebagai media belajar masyarakat dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai kemasyarakatan.

Warga masyarakat yang mandiri merupakan cita-cita jangka panjang P2KP, melalui konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di bidang sosial, ekonomi, serta permukiman yang sehat dan ramah lingkungan (TRIDAYA). Karena, ketiga sektor itu dinilai efektif dalam mempercepat kemandirian warga yang sejahteara dan lingkungan yang sehat lestari.

Dalam perjalanannya, mulai dari P2KP 1, P2KP 2 dan P2KP 3, sudah terbentuk 6.405 Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang tersebar di 1.123 kecamatan di 235 kota dan Kabupaten, serta 291.000 relawan masyarakat.

BKM adalah sebuah lembaga yang representatif dan mengakar, karena proses pembentukaanya dibentuk dari level paling bawah (RT). Pun, BKM adalah kelembagaan P2KP sebagai instrumen perubahan di tingkat kelurahan, karena prinsip kemasyarakatan dan prinsip kemanusiaan (jujur, adil, ikhlas dapat dipercaya, tanggungjawab) menjadi syarat mutlak untuk menjadi pimpinan kolektif BKM.

Adalah prestasi bagi P2KP dan seluruh masyarakat, karena program ini telah memberi manfaat kepada 18.9 juta (penduduk miskin) melalui 243.838 Kelompok Swadaya Masyarakat atau KSM (baca Pedoman PNPM MANDIRI P2KP 2007). Prestasi yang diperoleh P2KP ini merupakan bukti nyata kerjasama seluruh elemen masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan di perkotaan. Tanpa adanya kerjasama, partisipasi aktif masyarakat baik laki-laki maupun perempuan, miskin dan non miskin, elit dan non elit, maka kemiskinan tetap sebagai hantu masyarakat yang tak akan pernah berakhir.

Untuk itu, partisipasi sebagai esensi pembangunan yang menggunakan model kebijakan bottom-up menjadi langkah strategis – taktis dan akseleratif dalam mengeliminir prosentase kemiskinan. Dengan demikian, pada tahun 2007 pemerintah mengalokasikan dana cukup signifikan, yang mencakup 7.273 kelurahan dan 834 kecamatan yang tersebar di 249 Kota (baca Juklak P2KP 2007). Berpijak pada progresivitas akan keberhasilan P2KP dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, maka pada tanggal 30 April 2007 di Palu, Sulawesi Tengah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi mendeklarasikan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, dan P2KP secara integratif termasuk di dalamnya. Inilah bukti keseriusan pemerintah dalam mengurangi dan menanggulangi kemiskinan.

Integrasi PNPM Mandiri – P2KP merupakan solusi alternatif problem kebangsaan yang tidak kunjung selesai. Membangun masyarakat berdaya, mandiri dan madani (civil society) adalah puncak dan cita-cita jangka panjang PNPM Mandiri – P2KP. Oleh karenanya, kejujuran, ikhlas, kebersamaan, keadilan dan tanggungjawab merupakan modal sosial (social capital) yang akan melahirkan masyarakat berdaya, mandiri dan madani. Tanpa terbangunnya modal sosial, maka persoalan yang kerapkali menimpa masyarakat tidak akan pernah tertuntaskan (Social Capital: 2003).

Membangun kemandirian warga merupakan cita-cita terbesar bagi PNPM Mandiri – P2KP, dimana masyarakat tidak lagi pasif dan apatis dalam menatap hidup. Kemandirian dalam bidang ekonomi, lingkungan yang sehat, sosial-politik, bahkan kebudayaan merupakan ciri dari masyarakat madani. Hal itu bisa terwujud manakala pemerintah dan seluruh elemen masyarakat secara besama-sama melakukan ikhtiar kolektif dalam menanggulangi kemiskinan. Jika tidak, maka kemiskinan yang seringkali melahirkan ragam masalah dalam masyarakat sulit diatasi.

Komitmen PNPM Mandiri – P2KP, dengan kesepakan global pada tahun 2000 mengenai Millennium Development Goals (MDGs) adalah membangun masyarakat dan generasi intelektual. Kegiatan ini dikonsentrasikan dalam bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu dan masyarakat yang belum bisa baca tulis. Begitu juga dalam bidang kesehatan, peningkatan kualitas gizi anak dan ibu hamil merupakan komitmen PNPM Mandiri – P2KP untuk mengurangi angka kematian ibu hamil dan gizi buruk. Pun, tingginya daya beli masyarakat menjadi indikator dan tolok ukur akan tercapainya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Guna mencapai ketiga dimensi itu, maka pemerintah dan masyarakat melalui PNPM Mandiri – P2KP mesti bersama-sama melakukan ikhitar kolektif ini. Semoga. (Abdus Salam, Community Development Consultant PNPM Mandiri P2KP Kelurahan Kota Raja & Kota Ratu/Korkot 2 P. Flores KMW XII P2KP-3 NTT; Firstavina)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s