Mengenal Semen Type I dan PCC

Mengenal Semen Type I dan PCC, Apa bedanya?

Semakin mahalnya harga bahan bakar memicu pabrik semen untuk berhemat agar dengan daya beli masyarakat yang barangkali turun, semen tetap terjangkau. Selain itu, dengan perkembangan teknologi bahan, pabrik semen juga berlomba untuk menciptakan produk-produk baru sehingga kadang membingungkan masyarakat. Pada kesempatan ini saya postingkan dua diantara type semen yang ada. Dua tipe ini sering tersedia di pasaran namun karena penggunaannya mirip maka bisa membingungkan kita sebagai konsumen.

Semen adalah perekat hidraulis bahan bangunan, artinya akan jadi perekat bila bercampur dengan air. Bahan dasar semen pada umumnya ada 3 macam yaitu klinker/terak (70% hingga 95%, merupakan hasil olahan pembakaran batu kapur, pasir silika, pasir besi dan lempung), gypsum (sekitar 5%, sebagai zat pelambat pengerasan) dan material ketiga seperti batu kapur, pozzolan, abu terbang, dan lain-lain. Jika unsur ketiga tersebut tidak lebih dari sekitar 3 % umumnya masih memenuhi kualitas tipe 1 atau OPC (Ordinary Portland Cement). Namun bila kandungan material ketiga lebih tinggi hingga sekitar 25% maksimum, maka semen tersebut akan berganti tipe menjadi PCC (Portland Composite Cement). Standard dan penggunaannya diberikan sebagai berikut:

Ordinary Portland Cement (OPC) Tipe I

Indonesian Standard : SNI 15-2049-2004

American Standard : ASTM C 150-04a

European Standard : EN 197-1:2000

Semen Portland Tipe I merupakan jenis semen yang cocok untuk berbagai macam aplikasi beton dimana syarat-syarat khusus tidak diperlukan.

Portland Composite Cement (PCC)

Indonesian Standard : SNI 15-7064-2004

European Standard : EN 197-1:2000 (42.5 N & 42.5 R)

PCC (Portland Composite Cement) digunakan untuk bangunan-bangunan pada umumnya, sama dengan penggunaan Semen Portland Tipe I dengan kuat tekan yang sama. PCC mempunyai panas hidrasi yang lebih rendah selama proses pendinginan dibandingkan dengan Semen Portland Tipe I, sehingga pengerjaannya akan lebih mudah dan menghasilkan permukaan beton/plester yang lebih rapat dan lebih halus.

Jadi dari keterangan di atas, kalau kita hanya butuh untuk bangunan biasa dengan lantai tidak terlalu tinggi serta bukan untuk tiang dan balok beton, tipe PCC barangkali cukup memadai. Namun untuk yang memerlukan kekuatan tinggi sebaiknya pakai OPC tipe 1. Plesteran dan pasangan bata barangkali pakai PCC sedang tiang, balok dan lantai coran sebaiknya pakai OPC tipe 1. Maaf walaupun contoh gambar di atas merk tiga roda, penulis tidak berpihak kepada siapapun, sebab bila memenuhi SNI atau ASTM semua merk boleh anda pakai. Yang jelas dengan memakai PCC berarti pula menghemat sumber daya alam dan energi karena kebutuhan energinya lebih besar OPC. Silakan mencoba, semoga rumah anda kuat, kokoh, dan nyaman.

Pos ini dipublikasikan di Beton. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s